PESERTA DIDIK

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
              Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwasanya pendidikan merupakan suatu hal yang urgen dalam setiap lini kehidupan. Sebagai wahana untuk membentuk manusia ideal, maka pendidikan tidak akan pernah terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Di lain pihak pendidikan merupakan faktor penentu kemajuan suatu negara. Maju tidaknya suatu negara tergantung dari kualitas pendidikan di dalamnya. Sudah jelas kiranya bahwasanya pendidikan memang memiliki peranan penting dalam kehidupan umat manusia.
Anak didik sebagai salah satu komponen pendidikan dalam hal ini memerlukan perhatian yang cukup serius, terlebih selain sebagai objek juga berkeduduna sebagai subjek dalam pendidikan. Dengan kedudukan yang demikian maka keterlibatan anak didik menjadi salah satu faktor penting dalam terlaksananya proses pendidikan.
Sebagai seseorang yang terkenal dengan pakar sosiolog, Ibn Khaldun mencoba mendefinisikan anak didik sesuai tingkat pemahamannya. Dengan latar belakang sosiolog dan juga sejarawan, sedikit banyaknya memberikan pengaruh dalam usahanya memberikan pandangan terhadap anak didik. Seperti apa pandangannya? Kami akan mencoba mendiskusikannya.





BAB II
PEMBAHASAN
HAKIKAT PESERTA DIDIK

1. Pengertian Anak Didik
      Anak didik merupakan salah satu komponen terpenting dalam pendidikan. Tanpa anak didik, proses kependidikan tidak akan terlaksana. Oleh karena itu pengertian tentang anak didik dirasa perlu diketahui dan dipahami secara mendalam oleh seluruh pihak. Sehingga dalam proses pendidikannya nanti tidak akan terjadi kemelencengan yang terlalu jauh dengan tujuan pendidikan yang direncanakan. Dalam paradigma pendidikan Islam, peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Paradigma di atas menjelaskan bahwasanya manusia / anak didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengarahkannya mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kedewasaan. Menurut Samsul Nizar (2002) beberapa hakikat peserta didik dan implikasinya terhadap pendidikan Islam, yaitu :
  1. Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa, akan tetapi memiliki dunia sendiri.
  2. Peserta didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi priodesasi perkembangan dan pertumbuhan.
  3. Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang menyangkut kebutuhan jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi.
  4. Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individual.
  5. Peserta didik terdiri dari dua unsur utama, yaitu jasmani dan rohani.
  6. Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.
2.  Pandangan Terhadap Anak Didik
              Kita sepakat bahwa untuk dapat membangun peradaban yang tinggi harus dimulai dengan memajukan pendidikan terlebih dahulu. Oleh karena itu maju tidaknya suatu negara ditentukan oleh tingkat kualitas pendidikan di dalamnya. Semakin bagus mutu/kualitas pendidikan suatu negara maka semakin maju peradaban yang dibangunnya.
              Anak didik sebagai salah satu komponen pendidikan di dalamnya merupakan salah satu faktor terpenting dalam terlaksananya proses pendidikan. Selain sebagai objek manusia juga sebagai subjek dalam pendidikan, sehingga kedudukannya dalam proses kependidikan menempati posisi urgen sebagai syarat terjadinya proses pendidikan. Berangkat dari urgensitas pendidikan dalam membangun sebuah peradaban, maka banyak para kaum intelektual yang mencoba mengkajinya lebih dalam sampai keakar permasalahannya. Ibn Khaldun, seseorang yang terkenal sebagai sejarawan, sosiolog, dan juga antropolog, mencoba mengemukakan gagasan pemikirannya mengenai anak didik, yang dalam hal ini anak didik menduduki objek sekaligus subjek dalam pendidikan. Menurut Husayn Ahmad Amin (1995), dengan latar belakang seorang sosiolog, maka dalam bebagai kajiannya Ibn Khaldun bersandar sepenuhnya kepada pengamatan terhadap fenomena sosial dalam berbagai bangsa yang di dalamnya dia hidup. Begitu pula dalam pemikirannya mengenai anak didik, ia mengaitkannya dengan aspek sosial yaitu hubungan anak didik dengan lingkungan dan masyarakat disekitarnya. Lebih lanjut diterangkan, Ibnu Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya sebagaimana yang acapkali dibicarakan para filosof, baik itu filosof dari golongan muslim atau non-muslim. Ia lebih banyak melihat manusia dalam hubungannya dan interaksinya dengan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Dalam konteks inilah ia sering disebut sebagai salah seorang pendiri sosiolog dan antropolog. Menurutnya, keberadaan masyarakat sangat penting untuk kehidupan manusia, karena sesungguhnya manusia memiliki watak bermasyarakat.
Ini merupakan wujud implementasi dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial, yang secara harfiahnya selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Salah satu contoh yaitu dengan adanya oganisasi kemasyarakatan.
Melalui organisasi kemasyarakatan tersebut manusia juga dapat belajar bagaimana seharusnya menjadi orang yang dapat diterima oleh lingkungannya. Dengan demikian maka secara tidak langsung manusia lambat laun akan menemukan watak serta kepribadiannya sendiri. Manusia bukan merupakan produk nenek moyangnya, akan tetapi, lingkungan sosial, lingkungan alam, adat istiadat. Karena itu, lingkungan sosial merupakan pemegang tanggungjawab dan sekaligus memberikan corak perilaku seorang manusia. Hal ini memberikan arti, bahwa pendidikan menempati posisi sentral dalam rangka membentuk manusia ideal yang diinginkan. Pendidikan sebagai suatu upaya dalam membentuk manusia ideal, mencoba mengajarkan dan mengajak manusia untuk berpikir mengenai segala sesuatu yang ada di muka bumi, sehingga hasrat ingin tahunya dapat terpenuhi. Ibn Khaldun memandang manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan berbagai makhluk lainnya. Manusia, kata Ibn Khaldun adalah makhluk berpikir. Oleh karena itu ia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi. Dan hal itu sebagai bukti bahwa manusia memang memiliki tingkatan berpikir yang lebih tinggi dibanding dengan makhluk lainnya.
Disamping memiliki pemikiran yang dapat menolong dirinya untuk menghasilkan kebutuhan hidupnya, manusia juga memiliki sikap sikap hidup bermasyarakat yang kemudian dapat membentuk suatu masyarakat yang antara satu dengan yang lainnya saling menolong. Dari keadaan manusia yang demikian itu maka timbullah ilmu pengetahuan dan masyarakat. Ilmu yang demikian mesti diperoleh dari orang lain yang telah lebih dahulu mengetahuinya. Mereka itulah yang kemudian disebut guru. Agar tercapai proses pencapaian ilmu yang demikian itu, maka perlu diselenggarakan kegiatan pendidikan. Pada bagian lain, Ibn Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan, manusia disamping harus sungguh-sungguh juga harus memiliki bakat. Menurutnya, dalam mencapai pengetahuan yang bermacam-macam itu seseorang tidak hanya membuuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam satu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.
Dalam Al Qur`an sendiri manusia terdiri dari materi (jasad) dan immateri (ruh, jiwa, akal, qalb). Jika dihubungkan dengan pendidikan, maka manusia yang diberi pendidikan itu adalah jiwa dan akalnya. Pendidikan pada manusia adalah suatu proses pengembangan potensi jiwa dan akal yang tumbuh secara wajar dan seimbang, dalam masyarakat yang berkebudayaan.
3. Perkekembangan Terhadap Anak Didik
a.      Perkembangan Pertumbuhan
Sejak lahir hingga akhir hayat manusia selalu mengalami perkembangan dan pertumbuhan.Sedangkan untuk makna dari perkembangan dan pertumbuhan itu sendiri berbeda, walaupun keduanya masih sangat berkaitan. Perkembangan menurut Santrock & Yussen adalah merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi ( penurunan menuju kematian). Disini kata tahu bahwa perkembangan yang terjadi itu selalu mengarah kepada progresif (maju),dan proses itu akan berakhir hingga akhir hayat.Seperti semakin bertambahnya usia seseorang, maka ia juga akan semakin meningkat perkembangannya.
Sedangkan untuk pengertian pertumbuhan menurut Prof. Dr.  Conny. R. Semiawan pertumbuhan merupakan perubahan dalam aspek jasmaniah dan bersifat kuantitatif dan evolusi. Disini kita tahu bahwa pertumbuhan lebih mengarah pada aspek jasmaniah manusia atau aspek fisik manusia seperti makin tinggi tubuh manusia, semakin bertambahnya berat badan manusia,atau semakin tumbuhnya struktur tulang manusia.
Dengan penjelasan diatas kita tahu bahwa ternyata perkembangan dan pertumbuhan itu sangat berkaitan. Karena apabila manusia mengalami pertumbuhan yang semakin sempurna , maka perkembangan manusia itu akan semakin sempurna pula, manusia akan semakin banyak mengetahui berbagai hal. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian pertumbuhan tercakup dalam pengertian perkembangan, namun tidak setiap perubahan dalam arti perkembangan merupakan pertumbuhan.
b.      Anak sebagai totalitas
Konsep anak di pandang sebagai totalitas adalah merupakan organisme yang terdiri dari suatu keseluruhan, dan keseluruhan yang ada dalam diri anak tersebut saling terjalin atau saling berkaitan antara satu sama lain.Anak sebagai totalitas juga berarti anak dipandang sebagai makhluk hidup yang utuh, yang tidak hanya dapat dipandang sebagai sekumpulan organ tubuh antara kepala, kaki, tangan, lengan, serta organ tubuh lainnya.Sebagai contoh, apabila anak sakit pasti akan rewel, atau anak yang marah biasanya akan menangis menjerit-jerit.
Konsep anak sebagai totalitas mempunyai arti bahwa perbedaan anak dengan orang dewasa tidak hanya terlihat dari perbedaan fisik ataupun psikis, tetapi perbedaan secara keseluruhan. Anak bukan miniature bagi orang dewasa.Secara fisik anak sedang mengalami pertumbuhan yang pesat, berbeda dengan orang dewasayang relative sudah tidak berkembang lagi. Jadi dapat disimpulkan bahwa anak sebagai totalitas yakni suatu organisme yang merupakan suatu kesatuan nyang terintegrasi dari keseluruhan aspek fisik dan psikis yang ada dalam diri seorang anak.
c.      Perkembangan sebagai proses holistik,dari aspek biologis,social, dan psikolososial
Perkembangan dapat diartikan sesuai dengan konsep anak sebagai totalitas, karena perkembangan juaga merupakan proses yang sifatnya menyeluruh (holistik).Menurut Santrock & Yussen, terdapat tiga domain dalam proses perkembangan individu, yakni proses biologis, proses kognitif, proses psikososial. Proses biologis yakni mencakup perubahan dalam tubuh manusia atau individu, seperti pertumbuhan tulang, otot, atau system syaraf.Selain itu dalam perkembangan ini juga mencakup perkembangan seksual, perkembangan motoric serta perkembangan atau perubahan penglihatan.Tetapi dalam perkembangan ini tidak mencakup perubahan yang disebabkan karena kecelakan.
Proses kognitif meliputi perubahan kemampuan,kemahiran dalam bahasa dan pola berpikir,atau bagaimana cara manusia dalam memperoleh pengetahuan di lingkungannya.Proses atau perkembangan kognitif berbeda dengan arti belajar.Perkembangan kognitif mengacu pada perubahan pola dan kemampuan berpikir,serta terjadi dalam waktu yang lama.Sedangkan arti belajar mengacu pada perubahan sebagai hasil dari pengalaman serta terjadi dalam waktu yang singkat. Proses psikososial meliputi perubahan dalam aspek perasaan, emosi, serta cara seseorang berhubungan dengan orang lain.Seperti contoh pola hubungan dengan anggota keluarga, teman sebaya,guru-guru dan yang lainnya.
Jadi proses biologis mempengaruhi proses kognitif,proses kognitif mempengaruhi proses psikososial,dan proses psikososial mempengruhi proses biologis, dan sebaliknya.

d.     Kematangan VS Pengalaman dalam perkembangan anak
Chaplin mengartikan kematangan sebagai proses mencapai kemasakan atau usia masak dan proses perkembangan yang dianggap berasal dari keturunan.Proses kematangan juga sangat tergantung pada gen, karena pada saat terjadi pembuahan, gen sudah memprogramkan potensi-potensi tertentu untuk perkembangan makhluk hidup tersebut di kemudian hari.Jadi kematangan sebenarnya merupakan suatu potensi yang dibawa sejak lahir, timbul dan bersatu dengan pembawaannya serta turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu.Dan apabila di Tanya apakh kematangan berpengaruh pada perkembangan manusia, jawabanya ” Ya”. Karena apabila seseorang dalam memiliki potensi atau penurunan sifat yang dibawa sejak lahir itu tidak baik itu sangat mengganggu proses perkembangannya.contoh anak memiliki sifat dengki sejaklahir dan itu terus ada hingga anak tersebut menjadi besar dan dewasa, maka dalam proses perkembangan pasti dia akan terganggu, seperti dijauhi teman atau yang lainnya.
Pengalaman merupakan peristiwa yang terjadi pada manusia selama berinteraksi dengan lingkunganny.Individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya, pasti akan mengalami ketidasesuaian, dan apabila mgalami kaetidaksesuaian pasti akan terjadi konflik, seperti contoh apabila ada anak yang awalnya baik apabila berada dilingkungan yang tidak baik, pasti akan lama kelamaan akan terseret juga, Serta para ahli yang memperdebatkan faktor mana yang paling penting antara kematangan dan pengalaman.Sebagian ahli ada yang menekankan lebih penting kematangan, dan para ahli psikologi lainnya ada yang lebih menekankan pada faktor pengalaman.Walaupun dalam kehidupan nyatanya untuk menentukan dominan mana antara kedua faktor tersebut sangatlah susah.Karena kualitas pertumbuhan dan perkembangan seseorang bisa dihasilkan dari penggabungan antara unsur kematangan dan pengalaman. Meskipun kadang-kadang penting untuk mengetahui pengaruh relatif dari kedua faktor tersebut.
e.      Kontinuitas VS Diskontinuitas
Sesuatu yang sering di perdebatkan oleh para ahli adalah pertanyaan apakah perkembangan itu merupakan sesuatu yang sinambung (continue) atau tidak sinambung (discontinue). Para ahli yang menekankan pada segi kesinambungan (continue) dalam perkembangan menjelaskan bahwa perkembangan merupakan perubahan kumulatif yang berlangsung secara bertahap dari masa konsepsi hingga akhir hayat.Para ahli yang mendukung teori kontinuitas menyakini bahwa perkembangan terjadi secara halus.
Di lain pihak, para ahli yang menekankan segi ketidaksinambungan (discontinue) dalam perkembangan mempunyai anggapan bahwa proses perkembangan seseorang melibatkan tahapan yang berbeda. Perubahan - perubahan seseorang terjadi secara tiba - tiba dari suatu tahap ke tahap berikutnya. Dalam hal ini para ahli yang mendukung pandangan diskontinuitas mempunyai anggapan bahwa secara prinsip perkembangan diarahkan oleh faktor internal biologis.
f.        Perkembagan Biologis dan Perseptual Anak
1.     Faktor hereditas dan lingkungan dalam perkembangan anak
Setisp perkembangan pasti ada faktor yang mempengaruhinya, antara lain faktor yang mempengaruhi perkembangan yaitu faktor hereditas dan lingkungan. Faktor hereditas bersifat alamiah dan diwariskan oleh orang tua. Faktor ini juga menjelaskan apa yang diturunkan oleh orang tua itu merupakan sifatnya bukan perilaku yang diperoleh sebagai hasil dari belajar, karena factor hereditas itu merupakan sesuatu yang diwariskan oleh orang tua, maka apa yang diwariskan pasti akan sama dengan orang tuanya, seperti halnya raut muka, sifat,warna kulit, atau bentuk tubuhnya.
Faktor lingkungan yakni kondisi yang memungkinkan untuk berlangsungnya suatu proses perkembangan.Yang merupakan factor lingkungan yaitu mencakup keluarga,sekolah, masyarakat sekitar.Keluarga merupakan tempat diasuh dan dibesarkannya anak, dan tempat dimana anak mendapatkan pelajaran hidup atau berbagai pengetahuan untuk pertama kalinya.Keluarga menjadi faktor yang penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Sekolah, merupakan lembaga pendidikan formal dan merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak.Karena di sekolah anak diajarkan pengetahuan yang lebih dari apa yang didapat di keluarga. Dengansekolah anak jua mendapat kesempatan lebih untuk mengembangkan kepribadian yang ada dalam dirinya, baik fisik,mora, ataupun emosi. Masyarakat, lingkungan tempat tinggal anak, didalamnya termasuk teman sebaya atau teman di luar sekolahnya.Keadaan di masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan jiwa seorang anak.Seperi contoh, antara masyarakat desa dan kota, anak-anak di kota lebih aktif dibandingkan anak-anak di desa. Jadi diantara faktor hereditas dan lingkungan sama-sama pentingnya dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
2.     Perkembangan fisik dan perseptual anak
Perkembangan Fisik anak memiliki karakteristik yang berbeda dari kondisi fisik yang sebelum dan sesudahnya.Dan perbedaan karakteristik ini sangat perlu untuk dipahami oleh para pendidik atau para guru. Aspek dalam perkembangan fisik anak meliputi, proporsi dan bentuk tubuh, tinggi dan berat badan,otak, serta kerempilan motorik.
Kegiatan perseptual pada dasarnya merupakan proses pengenalan kepada lingkungan.Dalam penyampaian informasi tentang lingkungan anak menerimanya dengan alat indra yang ada dalam dirinya. Aktivitas perseptual ada tiga proses yaitu sensasi, persepsi dan atensi. Sensasi adalah peristiwa penerimaan informasi oleh indra penerima. Persepsi adalah pengolahan data atas informasi yang diterima oleh alat indra. Atensi, mengacu pada selektivitas persepsi.Atensi dapat membuat seseorang untuk fokus kepada suatu objek dengan mengabaikan objek lainnya.
3.     Implikasi bagi kegiatan belajar dan mengajar
Perkembangan biologis dan perseptual anak memiliki keterjalinan dengan aspek perkembangan lainnya.Itu berarti permasalahan yang terjadi dalam perkembangan biologis dan perseptual anak dapat berdampak negatif pada aspek perkembangan lainnya.Oleh karena itu kita sebagai pendidik harus dapat memahami karakteristik perkembangan fisisk anak serta faktor yang mempengaruhi dan konsekuensi yang dapat ditimbulkan yang akhirnya membawa implikasi bagi penyelenggaraan SD. Impikasi bagi penyelengggaraan pendidikan, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa anak SD sudah dapat mengontrol tubuhnya sendiri sehingga anak SD sudah dapat memperhatikan kegitan pembelajaran. Tetapi kondisi fisik anak Sd belum begitu matang, fisik mereka masih sangat memerlukan banyak gerak meningkatkan kemampuan motoriknya.Oleh karena itu diperlukan pembelajaran sesuai karakteristik kebutuhan fisik anak.
Implikasi bagi penyelenggaraan pendidikan olahraga,pendidikan olahraga yang rutin dan teratur sangat diperlukan bagi anak SD. Olahraga sangat penting untuk perkembangan fisik dan perseptual anak. Usia anak SD merupakan dimana usia berkembangnya otot dan lemak, sehingga dalam menguasai gerakan anak relative sempurna.
Implikasi bagi pemeliharaan kesehatan dan nutrisi anak,kesehatan merupakan factor penting dan utama dalam pertumbuhan fisik anak. Anak yang sring sakit pasti pertumbuhan fisiknya akan terganggu.Penanaman kebiasaan hidup sehat hendaknyan diberikan kepada anak dari mulai kesehatan diri sendiri hingga kesehatan lingkungan.Selain itu asuapan gizi yang baik dan seimbang juga merupakan aspek npenting dalam perkembangan anak.
4.     Pendidikan dan Pembelajaran Atraktif
Pendidikan secara umum dapat dimengerti sebagai suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak dan budi mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada intinya pendidikan adalah suatu proses yang disadari untuk mengembangkan potensi individu sehingga memiliki kecerdasan pikir, emosional, berwatak dan berketerampilan untuk siap hidup ditengah-tengah masyarakat.
Sedangkan Pendidikan Berbasis Kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dapat dikuasai siswa baik secara pengetahuan maupun kemampuan yang dapat diamati dan diukur. Singkatnya adalah sekaligus mengetahui dan mampu menerapkan apa yang dikatahuinya itu.
a.      Pembelajaran Aktif
Proses pembelajaran di Taman Kanak-Kanak, Kelas I dan II Sekolah Dasar sangat dibutuhkan suatu strategi pembelajaran yang aktif. Berbagai macam aktivitas perlu diterapkan dalam pembelajaran apapun. Dengan bermain, menari, berolahraga, dramatisasi, gerak tangan dan kaki, apapun yang merupakan aktivitas positif dapat diterapkan. Proses pembelajaran pada usia dini yang telah mengikat anak pada suatu disiplin ketenangan duduk dan terlalu banyak di kelas dengan hanya mendengarkan, dan mencatat, tidaklah tepat. Yang dimaksud dengan pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa untuk mengalami sendiri, untuk berlatih, untuk berkegiatan sehingga baik dengan daya pikir, emosional dan keterampilannya mereka belajar dan berlatih. Pendidik adalah fasilitator, suasana kelas demokratis, kedudukan pendidik adalah pembimbing dan pemberi arah, peserta didik merupakan obyek sekaligus subyek dan mereka bersama-sama saling mengisi kegiatan, belajar aktif dan kreatif. Disini dibutuhkan partisipasi aktif di kelas, bekerja keras dan mampu menghargainya, suasana demokratis, saling menghargai dengan kedudukan yang sama antar teman, serta kemandirian akademis.
Beberapa petunjuk penerapan Pembelajaran Aktif:
  1. Mulailah pelajaran dengan menanyakan ringkasan atau apa yang penting dari pelajaran yang lalu. Mintalah peserta didik untuk membagikan apa yang mereka tulis atau ketahui kepada teman sekelas.
  2. Mintalah peserta didik untuk mengajukan pertanyaan apa yang belum mereka pahami atau minta keterangan lebih lanjut mengenai pelajaran yang lalu atau pelajaran yang akan diberikan.
  3. Mintalah peserta didik untuk menerka materi apa yang akan diberikan pada hari ini.
  4. Meminta peserta didik untuk menuliskan komentar/mengomentari secara lisan topik atau tema yang akan dibahas.
  5. Gunakanlah teknik permainan “jigsaw” untuk sarana permainan dalam kelompok kecil. Masing-masing kelompok memiliki tugas yang sama, tetapi sedikit informasi, sehingga mereka harus bekerjasama.
  6. Mempersiapkan diskusi dengan menanyakan sesuatu, menyebutkan angka satu untuk yagn setuju atau menunjukkan kertas warna hijau, angka dua atau warna merah untuk yang tidak setuju, dan angka tiga atau warna kuning untuk yang ragu-ragu. Kemudian berdasarkan jawaban itu peserta didik diminta untuk mengajukan alasan atau argumentasinya.
  7. Kerja kelompok, dimana setiap kelompok melakukan aktivitas tertentu sesuai dengan topik atau tema yang sedang dibahas/disampaikan.
  8. Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik diminta untuk menuliskan ringkasan menurut bahasanya sendiri. Atau diminta untuk membuat suatu tanggapan sesuai dengan kemampuannya entah dengan menggambar, membuat puisi, mengekspresikan dengan gerakan, menyanyi dan atau menari.
  9. Peserta didik diminta untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan pokok atau tema bahasan, setelah ditukarkan dengan teman yang lain (misalnya sebangku), kemudian diminta untuk mengerjakannya sebagai pekerjaan rumah.
  10. Siswa diminta untuk memberikan contoh dari pengalamannya yang berkaitan dengan pokok/tema yang baru saja dibahas.
Anjuran praktis ini, terbuka akan penyesuaian dengan tingkat dan jenjang pendidikan yang ada.
b.     Pembelajaran Atraktif
Pembelajaran atraktif adalah suatu proses pembelajaran yang mempesona, menarik, mengasyikkan, menyenangkan, tidak membosankan, variatif, kreatif dan indah. Dalam proses pembelajaran di Taman Kanak-kanak dan kelas I dan II Sekolah Dasar sangat diperlukan proses pembelajaran yang atraktif. Sebab pada umumnya anak-anak pada usia dini masih cepat bosan belajar dan berlatih, kegiatannya ditentukan oleh suasana hati dan menyenangi hal-hal yang indah, warna-warni, menggembirakan, dan mengumbar daya imajinasi yang tinggi dan liar. Pendidik hendaknya piawai dalam hal menciptakan proses pembelajaran yang mempesona dan membesut metode serta sarana yang mampu membuat mereka asyik belajar, bermain, melakukan sesuatu dengan variasi yang memadai. Pendidik harus kreatif dan inovatif dalam menciptakan alat dan sarana belajar, alat permainan serta lagu-lagu atau cerita-cerita sederhana dan ringkas. Sehingga tidak kekurangan akal dan sarana untuk mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Keterpesonaan peserta didik dalam proses pembelajaran dapat ditentukan oleh karena keterampilan pendidik dalam mendongeng atau bercerita; keterampilan membuat alat dan sarana bermain; kepandaian pendidik dalam menyanyi, kreativitas pendidik dalam menggunakan barang-barang bekas menjadi alat peraga; keterampilan pendidik dalam memilih metode secara variatif; dan penciptaan suasana kelas yang menggembirakan, menyenangkan dan nyaman. Namun ada satu hal yang sangat penting dari semua itu yaitu kepandaian pendidik dalam membangun komunikasi dan keakraban dengan peserta didik. Komunikasi yang lancar, keakraban yang sangat erat akan menentukan semua proses pembelajaran menjadi atraktif.
Sifat pokok dari pembelajaran atraktif adalah memukau, menarik, menyenangkan, indah. Atraktif dari segi fisik menyangkut ruangan kelas, taman bermain, dan alat sarana permainan. Atraktif dari segi suasana menyangkut profil pendidik yang murah senyum, ramah, memiliki kasih sayang yang memadai terhadap anak-anak, berhubungan akrab. Serta atraktif dalam proses pembelajaran yang menyangkut penggunaan metode yang kolaboratif dan variatif, tempat pembelajaran yang tidak hanya di dalam kelas saja tetapi juga di luar kelas (out door).
c.      Pembelajaran Berdasarkan Kecerdasan Jamak
Dalam kecerdasan jamak, anak yang mungkin tidak mampu di dalam kecerdasan logika matematika dan bahasa, dia dapat dikembangkan dengan lima kecerdasan lainnya. Mungkin dapat dibantu untuk mengembangkan kecerdasan musiknya, keterampilan gerak badannya dalam menari atau berolah raga, dilatih kecerdasannya dalam pergaulan, bagaimana memahami orang lain, bagaimana bekerjasama. Singkatnya setiap anak dapat dilatih dan dikembangkan melalui tujuh macam kecerdasan yang ada. Mungkin dua motto berikut dapat memotivasi kita dalam melaksanakan proses pembelajaran berdasar kecerdasan jamak: Pertama, “Semua anak itu cerdas dan ajarlah (didiklah) setiap anak sesuai dengan keunikan talentanya masing-masing.” Kedua, ” Kenalilah dirimu sendiri dan berjalanlah beriringan dengan teman-temanmu, merupakan keterampilan kunci untuk mengembangkan kecerdasan.”


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar